Lifestyle

Baiturrahman, Menjadi Pusat Pertahanan Sekaligus Pusat Pendidikan

Bagi siapa saja yang datang dan berkunjung ke Provinsi Aceh, terutama di Kota Banda Aceh, belum lah sempurna jika tidak berkunjung ke Mesjid Raya

Mesjid Raya Baiturrahman merupakan salah satu tempat ibadah nan megah, mesjid ini juga menjadi tempat destinasi wisata paling diminati wisman maupun wisnu. Foto | Geunta.com/Ahlul Fikar

GEUNTA.COM — Bagi siapa saja yang datang dan berkunjung ke Provinsi Aceh, terutama di Kota Banda Aceh, belum lah sempurna jika tidak melihat dan berkunjung ke Mesjid Raya, Baturrahman yang berada ditengah-tengah Kota Banda Aceh, tempat ibadah yang sangat megah ini dulunya di kenal sebagai pusat pertanahan pada masa penjajahan belanda dan sekarang menjadi pusat pendidikan, maka untuk mengisi waktu luang dan belibur di akhir pekan, pemilihan tempat ini strategis, terutama untuk beribadah kepada Allah SWT dan juga menikmati pemandangan sungguh menakjubkan.

Maka tidak heran,jika para pendatang dari berbagai daerah di nusantara dan dunia internasional,berkunjung tempat-tempat bersejarah, seperti Mesjid Raya Baiturrahmah, merupakan subuah cita-cita dan menjadi keharusan selain tempat ini terkenal sebagai objek wisata religius, para pendatang juga bisa menikmati pemandangan indahnya arstektur Mesjid terbaik di Asia Tenggara ini.

Sebab, berwisata seperti ini selain bisa menambah banyak ilmu pengetahuan, juga memunculkan semangat patriotisme untuk mempertahankan keutuhan bangsa, karena berdasarkan catatan sejarah Mesjid Baiturrahman pada masa kolonia belanda selain berfungsi sebagai rumah ibadah juga berperan sebagai benteng pertahanan,sekaligus menjadi pusat pendidikan.

Karena di Mesjid inilah pada masa itu para pemimpin perang baik yang berasal dari kalangan ulama maupun dari kalangan bangsawan bersama-sama mengkosentrasikan diri dalam mengatur strategi guna menghadapi serangan serdadu belanda yang hendak menguasai tanah air. Selain itu berkunjung ke Mesjid ini juga dapat meningkatkan keimanan kepada Allah SWT sebagai Sang Pencipta. Dan tentunya bisa membuat jiwa lebih tenang dan damai.

Mendatangi Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh, sebagai Masjid yang memiliki nilai sejarah panjang dengan bangunan arstektur khas, tentu memiliki akan ada daya tarik tersendiri, hal ini bukan saja disukai oleh pendatang lokal, regional,nasional bahkan turis internasional-pun cukup banyak berkunjuk datang datang Masjid Negara yang berada di jantung ibu kota Propinsi Aceh, Banda Aceh.

Nama Masjid Raya Baiturrahman ini berasal dari nama Masjid Raya pertama sekali dibangun oleh Sultan Iskandar Muda pada tahun 1022 H/1612 M. Dan pada tahun 1873 Mesjid ini dibakar habis pada saat agresi tentara Belanda kedua, dimana pada agresi tersebut Mayjen Khohler tewas yang kemudian diabadikan tempat tertembaknya pada sebuah monument kecil dibawah pohon ketapang/geulumpang dekat pintu masuk sebelah utara Mesjid.

Empat tahun setelah Masjid Raya Baiturrahman itu terbakar, pada pertengahan shafar 1294 H/Maret 1877 M, dengan mengulangi janji jenderal Van Sweiten, maka Gubernur Jenderal Van Lansberge menyatakan akan membangun kembali Masjid Raya Baiturrahman yang telah terbakar itu. Pernyataan ini diumumkan setelah diadakan permusyawaratan dengan kepala-kepala Negeri sekitar Banda Aceh.

Dimana disimpulakan bahwa pengaruh Masjid sangat besar kesannya bagi rakyat Aceh yang 100% beragama Islam. Janji tersebut dilaksanakan oleh Jenderal Mayor Vander selaku Gubernur Militer Aceh pada waktu itu. Dan tepat pada hari Kamis 13 Syawal 1296 H/9 Oktober 1879 M, diletakan batu pertamanya yang diwakili oleh Tengku Qadhi Malikul Adil. Masjid Raya Baiturrahman ini siap dibangun kembali pada tahun 1299 Hijriyah bersamaan dengan kubahnya hanya sebuah saja.

Pada tahun 1935 M, Masjid Raya Baiturrahman ini diperluas bahagian kanan dan kirinya dengan tambahan dua kubah. Dan pada tahun 1975 M terjadinya perluasan kembali. Perluasan ini bertambah dua kubah lagi dan dua buah menara sebelah utara dan selatan.

Dengan perluasan kedua ini Masjid Raya Baiturrahman mempunyai lima kubah dan selesai dekerjakan dalam tahun 1967 M. Dalam rangka menyambut Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) Tingkat Nasional ke-XII pada tanggal 7 s/d 14 Juni 1981 di Banda Aceh, Masjid Raya diperindah dengan pelataran, pemasangan klinkers di atas jalan-jalan dalam pekarangan Masjid Raya. Perbaikan dan penambahan tempat wudhuk dari porselin dan pemasangan pintu krawang, lampu chandelier, tulisan kaligrafi ayat-ayt Al-Qur’an dari bahan kuningan, bagian kubah serta intalasi air mancur di dalam kolam halaman depan.

Dan pada tahun 1991 M, dimasa pemerintahan Gubernur Ibrahim Hasan terjadi perluasan kembali yang meliputi halaman depan dan belakang serta masjidnya itu sendiri. Bagian masjid yang diperluas,meliputi penambahan dua kubah, bagian lantai masjid tempat shalat, ruang perpustakaan, ruang tamu, ruang perkantoran, aula dan ruang tempat wudhuk, dan 6 lokal sekolah. Sedangkan. perluasan halaman meliputi, taman dan tempat parkir serta satu buah menara utama dan dua buah minaret.

Mantan Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh Reza Pahlevi kepada Geunta.Com di Banda Aceh menyebutkan, Masjid Raya Baiturrahman mempunyai nilai yang tinggi bagi rakyat Aceh dan juga bangsa Indonesia, sebab Mesjid yang bangun semenjak Sultan Iskandar Muda sampai sekarang masih bangunan tersebut masih berdiri megah di tengah jantung kota Banda Aceh.

Mesjid Raya ini mempunyai berbagai fungsi selain shalat, yaitu tempat mengadakan pengajian, perhelatan acara keagamaan seperti maulid Nabi Besar Muhammad SAW, peringatan 1 Muharram, Musabaqah Tilawatil Qur’an hingga acara pernikahan,menjadi tempat uji baca Al-Qur’an bagi calon pemimpin Aceh. Selain itu saban hari warga kota dan para pendatang menjadikan Mesjid sebagai tempat berteduh yang merupakan salah satu obyek wisata Islami.

Ketika terjadi gempa dan tsunami 26 Desember 2004 lalu yang meluluh lantakkan sebagain tanah Aceh dengan menewaskan lebih 250.000 manusia dan menghancurkan lebih 100.000 unit rumah dan ratusan ribun bangunan serta bengunan lain termasuk juga mesjid, tetapi Mesjid ini dengan kekuasaan yang Maha Agung bisa selamat tanpa kerusakan yang berarti dan banyak warga kota selamat saat berada dalam mesjid.

Sementara itu Ketua Remaja Mesjid Baiturrahman tahun 1995-2000 yang juga penceramah tetap di Mesjid Raya Baiturrahman sekaligus pendiri lembaga Pendidikan Al-Qur;an di mesti itu Drs H Amir Hamzah menyebutkan Mesjid Raya Baiturrahman sebagai berfungsi sebagai tempat ibadah,juga berperan sebagai lembaga pendidikan juga pusat perekonomian,karena di komplek mesjid ini ada sekolah, TPQ,Baitur Qirat (tempat simpan pinjam modal usaha) juga bisa menjadi tempat belajar berbagai pengetahuan, pusat perayaan hari besar serta aneka kegiatan keagaaman dan kebudayaan di gelar di Mesjid ini.

Muhammad Nur (60) warga Sumatera Barat yang berkunjung ke Mesjid ini mengaku terkesima saat pertama sekali melihat indahnya bangunan itu, saat masuk kedalam Mesjid -dan melaksanakan shalat sunat,hatinya merasa sejuk dan benar-benar damai,Dia mengaku sangat betah duduk dan membaca Al-Qur’an dalam rumah Allah yang berada di jantung kota Banda Aceh.

Ia menambahkan selama dua hari berada di Banda Aceh selalu berusaha untuk bisa sholat berjamah di Mesjid Raya Baiturrahman, kerana bisa shalat di Mesjid ini selain mendapatkan ketenangan dan kenyamanan dalam beribah,karena semua imam di Mesjid ini saat membaca ayat dalam shalat sangat bagus suaranya juga bisa menambah wawasan karena selesai shalat ada ceramah agama yang disampaikan oleh orang-orang yang sangat paham soal agama dan berbagai pengetahuan lain.

(Geuta.com/Muhammad Hamzah)

Facebook Comments
To Top