Nasional

Keracunan Keong Sawah, Penjualnya Sudah Berjualan Enam Tahun

Ketua RW 07 Kampung Sawah Kota Bogor Saiful Anwar menyebut penjual makanan tutut atau keong sawah yang menyebabkan 89 warganya keracunan sudah

Korban keracunan keong sawah dirawat di Puskesmas Bogor Utara. Hingga Ahad (27/5) pagi jumlah korban mencapai 89 orang. Foto | Republika/Zahrotul Oktaviani

GEUNTA.COM — Ketua RW 07 Kampung Sawah Kota Bogor Saiful Anwar menyebut penjual makanan tutut atau keong sawah yang menyebabkan 89 warganya keracunan sudah berjualan selama enam tahun. Namun baru kali ini makanan tersebut menyebabkan masalah bagi warganya.

“Jualan tututnya sudah lama, sudah enam tahun dan tidak pernah kejadian begini. Nah ini masih dicari tahu kenapanya. Kalau dari kata penjaga warung, kan itu tutut titipan,” ujar Saiful seperti dikutip Republika.co.id Minggu (27/5).

Korban keracunan tutut kebanyakan warga RW 07 Kampung Sawah, Kota Bogor dan dari tiga RT, yaitu RT 01, 02, dan 03. Mayoritas korban pun berusia anak-anak yang duduk di kelas lima atau enam SD.

Saiful menyebut pembuat tutut ini menitipkan jualannya tidak hanya disatu tempat. Namun nahas, warganyalah yang kemudian menjadi korban.

“Yang suka makan anak-anak. Kan abis Maghrib itu mereka senengnya makanin tutut. Buat buka itu kan rasanya asin gurih. Kadang dibuat camilan juga nggak pakai nasi, diisepin,” kata Saiful.

Ada pula korban yang merupakan orang tua anak-anak tersebut, namun rata-rata karena mencoba makanan anaknya. Dari keterangan warganya, rata-rata mereka mengonsumsi tutut pada Rabu (23/5) atau Kamis malam (24/5). Pada Jumat baru warga merasakan kesakitan.

Keluhan yang pertama dirasakan adalah mual dan diare. Dari rasa sakit itu berlanjut ke suhu badan yang panas dan ditambah pusing.

“Ada yang mual, berlanjut ke diare, dan agak panas. Nah waktu dirasa nggak sembuh-sembuh, baru diperiksakan. Dari situ dokter bilang ternyata butuh diinfus dan ketahuan semuanya kalau keracunan,” ujarnya.

Kampung Sawah bukanlah lokasi penghasil tutut. Penjual makanan tutut ini mendapatkan bahannya dari Pasar Bogor. “Di kampung itu tidak ada tempat buat nangkep tutut. Yang masak ini dapat dari Pasar Bogor. Beli di pasar, diolah, baru dijual,” kata Saiful.

Rosidah selaku salah satu korban mengaku membeli tutut pada Rabu malam. Esoknya ia mulai merasa sakit perut dan mual.

“Berasa sakit mulai Kamis, soalnya makannya Rabu malam. Pertama sakit perut, itu sakit banget sampai mau muntah. Habis itu panas, lalu pusing dan diare,” ujar mahasiswa STAI Syamsul Ulum Bogor ini.

Dalam keluarganya, Rosidah bukanlah satu-satunya korban. Dua keponakannya dirawat di Puskesmas Bogor Utara.

Wanita berusia 20 tahun ini bercerita bersama dua keponakannya memakan tutut. Ia membeli dua bungkus tutut yang tiap bungkusnya seharga Rp 2.000.

“Makan tututnya dua bungkus tapi dimakan bertiga. Yang sakit tiga-tiganya sama keponakan. Yang beli keponakan, tapi aku yang nyuruh,” lanjutnya.

Rosidah dan dua keponakannya masuk puskesmas berbarengan pada Sabtu pagi. Sebelumnya, Rosidah sudah cukup sering makan tutut, namun baru kali ini ia mengalami keracunan. Ia dan dua keponakannya memakan tutut pada malam hari setelah menunaikan shalat tarawih.

Saat ini ia merasa sudah lebih baik, tinggal menghilangkan rasa pusing dan diare saja. Sementara sebelum masuk puskesmas, Rosidah merasa lemas seperti tidak memiliki tenaga.

Korban lainnya yang baru masuk Puskesmas Bogor Utara pada Ahad pagi adalah Tumini yang berasal dari Solo. Wanita berusia 43 tahun ini mulai merasa sakit sejak Kamis namun menganggap hanya sakit biasa.

“Memang saya ada penyakit darah tinggi cuma pusingnya beda. Ini pusing sekali, ditambah diare. Perutnya melilit,” ujarnya.

Warga RT 03 ini memakan tutut itu sendirian. Anggota keluarganya yang lain memang diakui tidak terlalu suka dengan makanan tradisional tersebut.

Satu orang anaknya, disebut sempat memakan satu buah. Namun makanan tersebut hanya sempat dikunyah tanpa ditelan. Sang anak pun terbebas dari petaka keracunan tutut.

“Padahal nggak banyak, harga Rp 2.000 sekantong. Itu isinya sedikit. Ukuran plastik seperempat kilogramlah,” lanjutnya.

Sakit yang dirasakan Tumini sejak Kamis lalu dianggap hanya sakit biasa. Namun semakin parah pada Sabtu malam dan puncaknya Ahad sebelum Subuh.

Tumini merasa pusing yang menimpanya tidak kunjung hilang, termasuk dirinya bolak-balik mengeluarkan BAB. “Pusingnya dua hari nggak hilang-hilang. Saya juga takut kekurangan cairan. Akhirnya tadi pagi ngerasa nggak kuat, dibawa ke puskesmas jadinya,” ujarnya.

Ia mengaku meski perutnya terasa melilit namun tidak sampai muntah. Mengenai pemilik warung yang menjual tutut, Tumini mendengar kabar juga ikut menjadi korban. Bersama salah satu anaknya, ibu penjual itu dirawat di rumah sakit di Kota Bogor.

Selama bulan puasa, warga 03 ini mengaku sudah berulang kali membeli tutut. Tidak ada masalah berarti sebelumnya. Tahun-tahun sebelumnya pun masih biasa saja. Baru kali ini ia dan warga lainnya menjadi korban keracunan tutut.

Udah berulang kali beli, biasa saja dimakannya. Cuma ini nggak tahu tiba-tiba. Saya juga kaget,” lanjutnya.

Facebook Comments
ADS SPACE GEUNTA
To Top