Aceh

Pangdam IM Terima Buku dari Tgk H. Harus Keuchik Leumik

GEUNTA.COM, Banda Aceh – Panglima Kodam Iskandar Muda, Mayjen TNI Abdul Hafil Fuddin, S.H., S.I.P., M.H., menerima buku dari seorang seniman yakni Tgk H. Harus Keuchik Leumik.

Tiga buah buku itu diberikannya, saat acara saat silaturahmi Pangdam IM dengan Insan pers seKota Banda Aceh di Rumah Dinas Pangdam IM, Blang Padang, Banda Aceh, Senin (7/5/18).

Adapun judul Tiga buku yang di tulis oleh Tgk H. Harus Keuchik Leumik tersebut, Kemilau Warisan Budaya, Potret Sejarah Banda Aceh dan Biografi Harun Keuchik Leumik.

Seperti diberitakan sebelumnya, Buku Kemilau Warisan Budaya ini mengupas tentang informasi budaya dan peninggalan indatu Aceh, berupa perhiasan, kain, budaya, maupun benda bersejarah lainnya pada akhir abad 16 hingga abad 17. Beberapa benda yang kini sudah langka dengan umur sampai 300 tahun itu, disimpan dalam museum pribadi Harun Keuchik Leumiek.

“Buku ini adalah cerminan identitas masyarakat Aceh yang perlu diketahui oleh para generasi-generasi penerus masyarakat Aceh,” ungkap Harun Keuchik Leumiek yang juga dikenal sebagai pengusaha toko emas, permata, dan souvenir di Kota Banda Aceh.

Sedangkan, buku Potret Sejarah Banda Aceh merupakan aset sejarah yang ia selamatkan saat banjir besar merendam Banda Aceh.

“Saat itu banjir besar di Banda Aceh. Air masuk ke rumah. Saya selamatkan foto-foto ini ke lantai atas, dokumen ini saya simpan,” ujarnya.

Buku ini merupakan cetakan kedua yang telah dilengkapi dengan foto-foto terbaru koleksi Pemerintah Belanda yang telah mendapat izin untuk disertakan dalam buku tersebut. Cover buku juga memakai foto Masjid Raya Baiturrahman setelah dibakar Belanda tahun 1873, koleksi foto milik KITLV.

Sementara, buku yang berjudul Biografi Harun Keuchik Leumik menceritakan kisah atau keterangan tentang kehidupan seseorang yaitu tentang perjalan Harun Keuchik Leumik.

Seperti diketahui H. Harun Keuchik Leumiek lahir pada 19 September 1942, Banda Aceh, ia adalah seniman, sejarawan, budayawan, kolektor, pengusaha, wartawan, saat ini ia menjadi Penasihat Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Aceh

Ia sempat mengenyam pendidikan formal di Fakultas Ekonomi Universitas Syiah Kuala sampai semester I, selanjutnya ia terjun langsung dalam bisnis keluarga yang sejak tahun 1950-an telah memiliki usaha kerajinan emas dan toko emas.

“Sejak tahun 1970-an ia menjadi wartawan Mimbar Swadaya Banda Aceh, wartawan Harian Mimbar Umum Medan, dan wartawan Harian Analisa Medan yang masih ia tekuni sampai sekarang. Selain itu, ia mengumpulkan benda-benda antik dan bersejarah terutama benda-benda peninggalan Aceh sejak tahun 1980,” terang dari Keuchiek Leumik.

Facebook Comments
ADS SPACE GEUNTA
To Top