Aceh

Dahlan Sulaiman: Organisasi tak Berjalan, Kadin Aceh Lumpuh

Mantan Ketua Kadin Aceh periode 1998-2003, HM Dahlan Sulaiman, SE. FOTO: Dokpri

GEUNTA.COM, Banda Aceh – Tokoh senior Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Aceh, Dahlan Sulaiman menilai tiga periode selama dipimpin Ketua Kadin Aceh Firmandez mengalami kelumpuhan. Organisasi pengusaha tersebut seperti tidak berkerja dan tak berkontribusi untuk Aceh.

Selain itu, para pengusaha yang ingin menjadi anggota Kadin Aceh juga mengalami penurunan karena sistem keorganisasian tidak berjalan sebagaimana diatur dalam AD/ART Kadin.

Lanjut dia, Kadin Aceh mulai ditinggalkan para pengusaha, bahkan semakin dijauhi oleh pengusaha dan asosiasi. Di mata masyarakat, Kadin Aceh menjadi tidak popular.

“Tidak pernah saya dengar ada laporan bulanan dan tahunan, berapa jumlah anggota Kadin Aceh berdasarkan sektor dan sub sektor usaha ataupun berdasarkan kualifikasi kecil, menengah dan besar. Apalagi kegiatan UMKM, pemasaran lokal, dalam negeri konon lagi luar negeri, sepertinya nihil,” ujar Dahlan, mantan Kadin Aceh periode 1998-2003.

Mantan Ketua Kadin Aceh ini menjelaskan kepada geunta.com, Jumat (14/9/2018), tugas Kadin Aceh masa Firmandez tidak terbuka. Kegiatan seperti Rapat Kerja (Raker) setahun sekali dan suksesi penggantian kepengurusan Kadin tingkat kabupaten/kota melalui Musda di tingkat II pun luput dari pemberitaan.

“Kita tidak pernah dengar Kadin Aceh berkerja. Jika pun ada diselenggarakan, tidak transparan dan tidak tahu siapa yang menjadi pesertanya. Kapan dan dimana dibuat pun kita tidak tau,” jelasnya.

Dahlan mencontohkan, pada acara temu usaha delegasi pengusaha Malaysia dan pengusaha Aceh yang diprakarsai oleh Konjen Malaysia beberpa waktu lalu di Hotel Kryad, Banda Aceh, tidak ada seorang pun perwakilan dari Kadin Aceh yang tampil memberi sambutan.

“Padahal, acara tersebut tupoksinya ialah Kadin Aceh. Karena tak ada perwakilan dari Kadin Aceh, terpaksa diambil alih oleh Asosiasi pengusaha Indonesia (Apindo).

Bukan hanya itu saja, Dahlan juga menceritakan pada acara cukup bergengsi yakni Indonesia-Malaysia-Thailand Growth Triangle (IMT-GT) yang bulan Juli lalu Kota Banda Aceh menjadi tuan rumah pertemuan IMT-GT.

“Saya selaku pencetus IMT-GT sangat kecewa, apalagi yang berperan di acara tersebut bukan KADIN Aceh, tetapi Apindo. “

Pada masa Dahlan menjadi Kadin Aceh, pengurus pada era konflik dulu pernah membuat program-program  yang bermamfaat, seperti mengajar teori kewiraswastaan dan praktik di sekolah kejuruan se-Aceh.

“Setiap 6 bulan sekali, kami secara bergantian mengirim siswa kelas 2 dan 3 sebanyak 60 hingga 100 orang ikut praktik di luar negeri dengan seluruh biaya ditanggung Kadin Aceh. Ketika mereka pulang, selain ilmu yang didapat, mereka juga menerima uang saku dari perusahaan tempat di berpraktik. Program mulia ini berhenti total setelah era Firmandez,” tukasnya.

Seperti diketahui, akhir-akhir ini, menjelang berakhirnya masa jabatannya Ketua Kadin Aceh Firmandez tiga periode ini mulai dipersoalkan anggota dan para pengusaha lainnya.

Firmandez yang juga menjabat sebagai Anggota DPR RI itu dituding telah melanggar AD/ART terkait masa jabatan, Musprov yang tak kunjung jelas, isu dinasti keluarga Firmandez di Kadin Aceh dan orang yang bertanggungjawab atas buruknya kinerja organisasi pengusaha ini.

Facebook Comments
To Top