Ekonomi

Usai OPEC Perpanjang Pengurangan Produksi Harga Minyak Naik 3%

Ilustrasi tambang minyak.merdeka.com

Geunta.com, Newyork – Harga minyak naik hampir 3% pada akhir perdagangan Jumat (Sabtu pagi WIB), menguat lebih lanjut dari posisi terendah lima bulan minggu ini, setelah Arab Saudi mengatakan OPEC hampir menyetujui untuk memperpanjang pengurangan produksi setelah Juni dan ketika saham-saham Wall Street meningkat.

Minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman Agustus naik USD1,62 atau 2,6% menjadi ditutup pada USD63,29 per barel di London ICE Futures Exchange. Demikian dikutip dari Antaranews, Sabtu (8/6/2019).

Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Juli naik USD1,4 atau 2,7%, menjadi menetap pada USD53,99 per barel di New York Mercantile Exchange.

Brent membukukan penurunan mingguan ketiga, turun hampir dua persen, sementara WTI naik sekitar satu persen untuk minggu ini. Pada Rabu (5/6/2019) kedua kontrak acuan itu mencapai titik terendah sejak Januari.

Menteri Energi Saudi Khalid al-Falih mengatakan dalam konferensi di Rusia bahwa Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan sekutunya harus memperpanjang pengurangan produksi minyak.

Dia mengatakan bahwa sementara OPEC mendekati kesepakatan, diperlukan lebih banyak pembicaraan dengan negara-negara non-OPEC yang merupakan bagian dari kesepakatan untuk mengurangi produksi sebesar 1,2 juta barel per hari (bph), yang berakhir pada akhir bulan ini.

Pasokan juga telah dibatasi oleh sanksi-sanksi Amerika Serikat terhadap ekspor minyak dari Venezuela dan Iran. Pada Kamis (6/6/2019), Washington memperketat tekanan pada perusahaan minyak milik negara Venezuela dengan menjelaskan bahwa ekspor diluents (pengencer) oleh pengirim-pengirim internasional dapat dikenakan sanksi.

Di Amerika Serikat, perusahaan energi minggu ini mengurangi jumlah rig minyak ke level terendah sejak Februari 2018. Pengebor minyak dan gas memangkas 11 rig dalam penurunan mingguan terbesar sejak April, menjadikan jumlah rig turun menjadi 789, kata perusahaan jasa energi General Electric Co Baker Hughes.

Harga minyak juga didukung oleh kenaikan di pasar ekuitas, setelah perlambatan tajam dalam pertumbuhan pekerjaan AS meningkatkan harapan penurunan suku bunga oleh Federal Reserve AS.

“Apa yang kami lihat adalah bank sentral global siap merespons perlambatan ekonomi,” kata Phil Flynn, seorang analis di Price Futures Group di Chicago, dikutip dari Reuters.

“Di AS, jika itu masalahnya, kami akan melihat lebih banyak stimulus ditambahkan ke pasar.”

Tetapi investor masih khawatir tentang ketegangan perdagangan yang dapat menghambat ekonomi global, termasuk perselisihan antara Amerika Serikat dan China.

Amerika Serikat juga mengancam tarif barang dari mitra dagang utama Meksiko. Presiden AS Donald Trump mengatakan pada Jumat (7/6/2019) ada “peluang bagus” Amerika Serikat akan membuat kesepakatan perdagangan dengan Meksiko, tetapi jika kedua negara gagal membuat perjanjian, tarif lima persen akan dikenakan pada impor Meksiko pada Senin (10/6/2019).

Karena data ekonomi yang lemah dan konflik perdagangan yang meluas, Commerzbank merevisi perkiraan kuartal ketiga untuk Brent turun menjadi 66 dolar AS dari 73 dolar AS per barel.

Hedge fund dan manajer uang lainnya memangkas posisi netto jangka panjang minyak mentah AS pekan lalu karena harga anjlok, Komisi Perdagangan Berjangka Komoditas AS (CFTC) mengatakan pada Jumat (7/6/2018).

Kelompok spekulan memangkas gabungan posisi berjangka dan opsi di New York dan London dengan 13.196 kontrak menjadi 198.884 kontrak selama sepekan yang berakhir 4 Juni. (okezone.com)

Facebook Comments

Most Popular

To Top