Pintu Aceh Gelar Diskusi Inspiratif Rivalitas Peran Intelektual Muda

Pintu Aceh Gelar Diskusi Inspiratif Rivalitas Peran Intelektual Muda

Geunta.com, Banda Aceh—Teknologi informasi dan komunikasi tak bisa dilepaskan dari kehidupan masyarakat. Dunia saat ini sudah memasuki era revolusi Industri generasi keempat atau biasa disebut dengan Revolusi Industri 4.0.

Namun, seperti diketahui bersama, belum semua elemen masyarakat menyadari konsekuensi logis atau dampak dari perubahan-perubahan yang ditimbulkannya. Bahkan, fakta-fakta perubahan itu masih sering menimbulkan masalah, karena banyak yang sikapi hal itu tidak pada koridor yang seharusnya.

Untuk mempersiapkan diri dalam menghadapi kondisi tersebut lebih cerdas lagi, terutama dari kalangan muda. Perhimpunan Intelektual Muda Aceh (Pintu Aceh) bekerja sama dengan Gramedia Banda Aceh menggelar acara bincang Inspiratif rivalitas peran intelektual muda, Senin (28/10/2019) di Banda Aceh.

Kegiatan bertajuk tema ‘Saatnya yang Muda Untuk Indonesia,’dilaksanakan dalam rangka memperingati hari sumpah pemuda.

Dalam kegiatan itu hadiri oleh puluhan muda mudi di Aceh dan narasumber oleh, Edi Fadhil, Hotli Simanjuntak dan Daudy Sukma.

Para narasumber itu menyikapi persoalan yang mulai banyak bermunculan hoak di social media, bahkan berita yang tak bisa dipertanggungjawabkan itu sangat gampang tersebar.

Selain itu, dalam kegiatan ini juga dibahas tentang mengelola usaha melalui media sosial, sehingga anak muda dapat memmfaatkan media sosial dengan cara positif demi mengembangkan usahanya.

Seperti yang disampaikan oleh, Edi Fadhil, menurutnya seorang social preneur menggunakan social media dan menepis hoaks tersebar.

“Paling simple dari kami dan tim ketika terpapar sebuah informasi di social media adalah dengan tanpa menyalahkan orang dan pihak lain, namun lebih pada apa yang dapat kita lakukan pada masalah yang muncul tersebut. Sebagai contoh saat ini paling cepat viral ketika ada video atau info tentang sekolah rusak atau rumah yang tidak layak huni, sementara sebagian besar kita lebih memilih untuk menyalahkan beberapa pihak, ketimbang memikirkan solusi terbaik untuk membantu dan menyelesaikan masalah yang muncul. Padahal jika saat itu kita bergerak, mungkin sekolah rusak sudah terbantu, atau rumah yang tadinya tidak layak huni pun menjadi bagus kembali, ” katanya.

Katanya, hal yang paling penting dalam mengunakan media sosial harus menjadi bermanfaat bagi orang lain ataupun memberi efek buruk dari semua berita yang tersebar oleh jempol kita.

Sementara Hotli mengatakan langkah yang terbaik untuk menghindari hoak yang tersebar di internet, harus melihatnya sumber informasi dan mengali fakta dan kebenarannya.

“Hati-hati dengan jempol mu, kita sering menjadi latah di internet, tanpa berfikir Panjang kita dengan mudahnya menyebarkan informasi apapun tanpa memeriksa fakta dan kebenaran. Padahal di era keterbukaan informasi ini, kita pun dengan mudah dapat menyaring semua info, terlebih info yang kita terima itu bersifat meragukan. Kita wajib melakukan perbandingan dari satu info dengan info lain agar mudah melakukan verifikasi ulang terhadap satu informasi, apakah itu benar atau hanya sebuah informasi hoaks, ” sebutnya.

Persoalan lain, mudah tersebar hoaxs menurutnya, kurangnya literasi dari generasi saat ini. Sehingga begitu mudah berita palsu tersebar tanpa ada niat untuk mencari tau kebenarannya.

“Ini mungkin ada hubungannya dengan bawaan dasar dari manusia itu sendiri. Manusia awalnya memiliki 2 bagian Otak, Crock Brain dan Cortex. Dimana crock brain ini hanya berbicara seputar bertahan hidup, atau juga berkembang biak, namun kemudian berevolusi menjadi pemikir, untuk memilah dan memilih sebuah keputusan apakah itu baik untuk kita dan orang lain atau tidak. Sekarang semua keputusan ada di tangan kita, apakah kita ingin menggunakan crock brain atau justru cortex brain, ” ujarnya.[…]

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Comments
Loading...